Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Komunitas kreatif yang bergerak di bidang riset, jurnalisme, desain, dan komunikasi marketing. Sebagai badan usaha diwadahi reksa communiation. Sebagai lembaga sosial, Reksa Institute menjadi ajang solidaritas kami. Integritas dan profesionalisme kami bisa dilihat pada topik dan cara penyajian situs-situs atau blog yang kami kelola.

(Ngaji of the Day) Mengapa Masih Ada Maksiat pada Bulan Ramadhan ketika Setan Dibelenggu?

Mengapa Masih Ada Maksiat pada Bulan Ramadhan ketika Setan Dibelenggu? Memasuki bulan suci Ramadhan, kita mungkin akrab dengan hadits-had...

Mengapa Masih Ada Maksiat pada Bulan Ramadhan ketika Setan Dibelenggu?


Memasuki bulan suci Ramadhan, kita mungkin akrab dengan hadits-hadits keutamaan Ramadhan yang disampaikan penceramah, khatib, atau yang dimuat dalam media online. Salah satunya adalah hadits berikut:

 

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

 

Artinya, “Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelanggu.”

 

Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hajar. Mereka meriwayatkannya dari Ismail bin Ja‘far, dari Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ihwal kesahihannya tak perlu diragukan mengingat hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (nomor 1079) yang termasuk salah satu dari dua kitab hadits paling otoritatif di tengah kaum Muslimin.

 

Redaksi lain menyebutkan sebagai berikut: “Jika masuk malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu,” dengan tambahan redaksi, “Sebuah suara menyeru, ‘Wahai pencari kebaikan, menghadaplah! Wahai pencari keburukan, batasilah! Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka.’ Seruan itu terjadi setiap malam.”

 

Hadits kedua diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (nomor 682) dari Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala bin Kuraib, dari Abu Bakar bin ‘Abbas, dari Al-A‘masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah. Masih banyak lagi perawi dan penulis kitab meriwayatkan hadits ini.

 

Dari hadits ini, muncul sebuah pertanyaan ringan, unik, namun penting dicarikan jawabannya. Pertanyaannya, mengapa di bulan Ramadhan masih banyak saja manusia yang maksiat dan mengumbar syahwat? Bukanlah setan dan jin-jin yang jahat sudah dibelenggu? Mestinya jika tidak ada yang menggoda, semua manusia berbuat taat.

 

Secara harfiah kata “shaffada” bermakna “mengikat”, “membelengu”, termasuk membelenggu dengan belenggu besi, seperti yang disebutkan Ibnu Hajar. Kemudian, terkait makna hakiki dari hadits ini, para ulama hadits sendiri memiliki pendapat beragam.

 

Al-Halimi yang dikutip oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan, mungkin saja hadits ini bermakna bahwa setan senantiasa mencuri-curi dengar informasi langit. Namun, pada bulan suci Ramadhan, mereka tidak dapat melakukan hal itu karena dibelenggu, termasuk menggoda manusia.

 

Sebagaimana diketahui, zaman Al-Qur‘an diturunkan mereka senantiasa dihalang-halangi mencuri tahu wahyu yang turun. Itu terjadi antara lain demi menjaga keotentikan wayhu. Mungkin pula hadits ini bermakna, pada bulan Ramadhan setan tidak terlalu leluasa menggoda manusia layaknya pada bulan-bulan lain karena kesibukan manusia berpuasa, membaca Al-Qur‘an, berzikir, dan seterusnya.

 

Dengan demikian, istilah “dibelenggu” menjadi ungkapan atas kelemahan setan menyelewengkan, menggoda manusia, dan memperindah keinginan syahwat manusia.

 

Walhasil, menurut Abu Muhammad penulis Kitab ‘Umdatul Qari, mengapa kemaksiatan masih merebak pada bulan Ramadhan walau setan dibelenggu? Jawabannya setan terbelenggu pada bulan itu bagi orang-orang berpuasa yang menjaga syarat, rukun, dan adabnya. (Syekh Badruddin Al-Aini, ‘Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari, juz X, halaman 270).

 

Ada lagi yang berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanya sebagian saja, tidak seluruhnya. Jadi, maksud hadits ini hanya membatasi ruang gerak setan dan jin-jin jahat saja. Itu pun dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa. Kemudian, pembelengguan setan tidak berhubungan langsung dengan keburukan dan kemaksiatan manusia. Sebab, dalam diri manusia masih terdapat pemicu atau pendorong keburukan lain, yakni nafsu, kebiasaan buruk, dan setan manusia. Adakalanya, tanpa setan, kebiasaan buruk akan mendorong manusia untuk berbuat buruk. Saat tidak dibelenggu pun, setan hanya mendorong dan memperindah keburukan. (Lihat Jamaluddin Abul Farj, Kasyful Musykil min Haditsis Shahihain, juz III, halaman 409).

 

Ada pula yang menafsirkan ungkapan hadits ini sebagai kiasan, seperti Abu ‘Umar Yusuf Al-Qurthubi. Ia mengatakan, “Menurut hemat saya, maksud ‘dibelenggu’ di sana adalah majaz (kiasan). Maknanya, wallahu a‘lam, Allah senantiasa menjaga kaum Muslimin yang taat di bulan Ramadhan dari godaan setan sehingga mereka mampu menghindari kemaksiatan. Dengan begitu, setan tidak leluasa menggoda mereka yang berlainan halnya dengan bulan-bulan di luar Ramadhan,” (Lihat Al-Istidzkar, juz III, halaman 377).

 

Dengan demikian, pengertian setan dibelenggu dalam hadits tadi tidak dapat dimaknai sepenuhnya secara harfiah. Mayoritas ulama hadits bahkan menafsirkannya secara kiasan. Artinya, setan terbelenggu dan terbatasi ruang geraknya oleh orang-orang yang berpuasa dengan senantiasa memenuhi syarat, rukun, dan adabnya. Pada saat yang sama, Allah memelihara mereka dari perbuatan tercela.

 

Oleh karena itu, berusahalah untuk menjauhi kebiasaan buruk, menjauhi manusia setan, dan mengendalikan nafsu yang kerap ditumpangi setan jin dalam menyesatkan manusia. Jangan lupa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari keburukan makhluk terkutuk itu. Wallahu a‘lam. []

 

Ustadz M Tatam, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.

COMMENTS

Nama

AHY,1,BamSoet,3,Cak Imin,1,Do'a of the Day,16,Fadli Zon,1,Fragmen of the Day,3,Haedar Nashir,1,Hikmah of the Day,5,Kang Komar,1,Khofifah,1,Khotbah of the Day,12,KHUTBAH JUMAT,1,Mice Cartoon,1,Nasaruddin Umar,16,Ngaji of the Day,84,Ramadhan of the Day,28,Yudi Latif,1,Zuhairi,3,
ltr
item
bapenpis: (Ngaji of the Day) Mengapa Masih Ada Maksiat pada Bulan Ramadhan ketika Setan Dibelenggu?
(Ngaji of the Day) Mengapa Masih Ada Maksiat pada Bulan Ramadhan ketika Setan Dibelenggu?
bapenpis
https://bapenpis.blogspot.com/2020/05/ngaji-of-day-mengapa-masih-ada-maksiat.html
https://bapenpis.blogspot.com/
https://bapenpis.blogspot.com/
https://bapenpis.blogspot.com/2020/05/ngaji-of-day-mengapa-masih-ada-maksiat.html
true
3558818566250152299
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy